-->

Contoh Laporan : Teknologi Produksi Tanaman

LAPORAN PRAKTIKUM

ALAT MESIN PERTANIAN
(PPH1511)
PENGOLAHAN TANAH I DAN II



Disusun oleh:

Cindy Dara Nabila  (17714002)


TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN HORTIKULTURA
BUDIDAYA TANAMAN PANGAN
POLITEKNIK NEGERI LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2019



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Proses pengolahan tanah atau lahan merupakan salah satu bagian terpenting dari proses pengolahan produksi pertanian .Pengolahan lahan bertujuan untuk memperbaiki kemampuan tanah menyimpan dan menyediakan hara serta untuk memperbesar volume perakaran. Memasuki era teknologi tinggi penggunaan alat-alat pertanian dengan mesin-mesin modern membantu percepatan proses pengolahan produksi pertanian. Salah satu alat yang umum dan paling sering digunakan adalah Traktor. Pengertian traktor ialah kendaraan bermesin yang khusus dirancang untuk menjadi penghela. Dari sejarahnya, traktor memang dirancang awalnya untuk mengganti hewan hela dengan mesin yang lebih kuat. Pada saat ini traktor digunakan untuk berbagai keperluan. Penggunaan yang paling banyak ialah untuk pengolahan tanah, karena memang pekerjaan pengolahan tanah adalah pekerjaan pertanian yang relatif membutuhkan daya yang besar dibanding pekerjaan lainnya. Selain itu traktor juga digunakan untuk penanaman, untuk pemeliharan tanaman, untuk memutar pompa irigas,untuk pemanen (dengan memasang pisau reaper), untuk memutar perontok padi, serta untuk pengangkutan, mulai dari bibit, pupuk, peralatan, sampai hasil pertanian. Dari asal katanya, traktor berarti alat peghela. Memang fungsi utama traktor ialah untuk menghela sesuatu. Itulah sebabnya semua traktor tentu pada bagian belakangnya dilengkapi dengan sambungan untuk tempat menggandeng alat yang akan dihela tersebut. Salah satu jenis traktor adalah traktor tangan .Mesin traktor tangan  digerakan dengan tenaga mesin, namun pengoperasiannya menggunakan tangan.

1.2 Tujuan 

Pada praktikum ini mahasiswa mengetahui dapat :
1. Mengevaluasi alat-alat pengolahan tanah pertama dan kedua dalam pertanian. 
2. Mengetahui tentang cara pengolahan tanah primer menggunakan bajak piring dan singkal
3. Mengetahui tipe-tipe pengolahaan tanah


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pengolahan tanah yang baik dapat mengendalikan pertumbuhan gulma dan dapat memperbaiki sifat fisik tanah, sifat kimia tanah, dan aktivitas biologi dalam tanah. Pengolahan tanah dapat mempengaruhi sifat fisik tanah. Sifat fisik tersebut terutama pembutiran tanah, kemantapan agregat, kandungan lengas, penetrasi air, drainase dan kemampuan air kapiler yang dapat mempengaruhi perkembangan tanaman (Dahono. 1997 didalam Wirasantika dkk. 2015).
Akhir-akhir ini masalah yang utama didalam pembukaan dan pengolahan tanah adalah bagaimana agar didapatkan efisiensi yang optimal. Hal ini dimaksudkan dari pengertian minimal tillage yaitu pengolahan yang seminimal mungkin, tetapi menghasilkan tanah yang baik dan pertumbuhan tanaman yang optimal dengan biaya yang rendah (Suastawa dkk, 2000 didalam Wirasantika dkk. 2015).
Penggunaan traktor sebagai sumber tenaga dalam pengolahan tanah, diharapkan dapat mengurangi waktu dan biaya yang diperlukan untuk proses pengolahan tanah, kapasitas kerja menjadi lebih tinggi dan pendapatan petani bertambah, sehingga dapat dilaksanakan usaha intensifikasi dan ekstensifikasi yang sempurna (Suastawa dkk. 2000 didalam Wirasantika dkk. 2015).
Pengolahan tanah merupakan salah satu kegiatan utama dalam budidaya tanaman dan kegiatan ini merupakan teknologi pertama kali yang dikenal petani.Kegiatan demikian ini telah dilakukan bertahun-tahun baik pada tanah sawah maupun tanah tegalan. Namun demikian kegiatan pengolahan tanah ini memerlukan biaya yang cukup besar sampai mencapai 20-30 % dari total biaya budidaya tanaman dan dapat meningkatkan produksi hingga 10–13 % (Koolen dan Kuipers. 1983 didalam Wirosoedarmo. 2006).
Pengolahan tanah tidak harus dilakukan pada setiap budidaya tanaman, terutama bagi tanah-tanah yang sudah memenuhi syarat tumbuh tanaman. (Munkholm 2000 didalam Wirosoedarmo. 2006) menyatakan bahwa tanaman dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang remah, gembur dan bergranuler, tetapi akibat pemadatan tanah setelah beberapa periode tanam, diperlukan pengolahan tanah. Pengolahan tanah mempunyai pengaruh utama pada kandungan air tanah melalui proses infiltrasi, aliran air permukaan dan ketersediaan air untuk tanaman (Zhai et al. 1990. Hill. 1978 didalam Wirosoedarmo. 2006). Kandungan air biasanya lebih tinggi pada tanah yang tidak diolah dari pada tanah yang diolah (Lindstrom et al., 1990; Tollner et al., 1984 dan Negi et al., 1981 didalam Wirosoedarmo. 2006).
Tujuan pengolahan tanah dengan traktor adalah untuk menciptakan keadaan fi sik tanah yang sesuai, untuk pertumbuhan tanaman dengan memanfaatkan peralatan yang bekerja secara mekanis dan berkapasitas besar. Pengolahan tanah pertama (primary tillage) adalah suatu tahap pengolahan tanah dalam mempersiapkan tanah untuk pertanaman dan membersihkan tumbuhan pengganggu, dimana pada tahap ini tanah dipotong, dilonggarkan, dan dibalik. Alat yang digunakan antara lain adalah bajak piring atau bajak singkal (Yunus. 2004 didalam Mardinata dkk. 2014).
Pola pengolahan tanah erat hubungannya dengan waktu yang hilang karena belokan selama pengolahan tanah. Pola pengolahan harus dipilih dengan tujuan untuk memperkecil sebanyak mungkin pengangkatan alat untuk mengurangi sebanyak mungkin waktu berbelok karena pada waktu diangkat alat itu tidak bekerja. Oleh karena itu harus diusahakan bajak atau garu tetap bekerja selama waktu operasi di lapangan. Makin banyak pengangkatan alat pada waktu belok, makin rendah efesiensi kerjanya.
Pola pengolahan tanah yang banyak dikenal dan dilakukan adalah pola bolak-balik rapat, pola berkeliling, pola spiral, pola tepi, pola tengah, dan pola alfa. Pola spiral paling banyak digunakan karena pembajakan dilakukan terus menerus tanpa pengangkatan alat (Rizaldi, 2006 didalam Mardinata dkk. 2014).
Bajak pada prinsipnya mempunyai fungsi yang sama dengan cangkul. Bajak berguna untuk memecah tanah menjadi bongkahan-bongkahan tanah. Dalam pembajakan tanah biasanya ditentukan oleh jenis tanaman dan ketebalan lapisan tanah atas. Kedalaman lapisan olah tanah untuk tanaman padi lebih kurang 18cm bahkan ada tanah yang harus dibajak lebih dalam lagi sekitar 20 cm (Smith dan Wilkes. 1990 didalam Butar butar dkk. 2015). Ada dua macam kapasitas pengolahan tanah yaitu kapasitas lapang teoritis dan kapasitas lapang efektif. Kapasitas lapang teoritis adalah kemampuan kerja suatu alat di dalam suatu bidang tanah, jika mesin berjalan maju sepenuh waktunya (100% ) dan alat tersebut bekerja dalam lebar maksimum (100% ). Waktu teoritis untuk setiap luasan adalah waktu yang digunakan untuk kapasitas lapang teoritis. Kapasitas lapang efektif atau aktual adalah rata-rata dari kemampuan kerja alat di lapangan untuk menyelesaikan suatu bidang tanah. Kapasitas dari alat-alat pertanian dapat dinyatakan dalam acre perjam atau hektar per jam (Daywin. et al. 2008 didalam Butar butar dkk. 2015). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi pengolahan lahan sawah dengan menggunakan traktor roda dua, menghitung kapasitas lapang efektif, efisiensi lapang, konsumsi bahan bakar, dan biaya produksi untuk pengolahan lahan dengan beberapa alat pengolahan tanah.

BAB III
METODELOGI

3.1 Praktikum I dan II
      3.1.1. Tempat dan waktu

Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 14 dan 28 November2019 di Lahan Pertanian Politeknik Negeri Lampung

      3.1.2. Kegiatan :
  1.  mengoprasikan traktor menggunakan bajak piring dan bajak singkal
  2.  mengolah tanah dengan lintasan 
      3.1.3. Bahan dan Alat

Bahan : Alat :
- Mahasiswa - Traktor New Holland
                        - Traktor Kubota
                        - Alat Tulis
- Handphone
- Bajak Piring
- Bajak Singkal

BAB IV
PEMBAHASAN

2.1 Tujuan dari Pengolahan Tanah

Mengolah tanah adalah membalik dan menggemburkan struktur tanah agar menjadi gembur, sehingga memudahkan perakaran untuk masuk ke dalam tanah dan memudahkan akar tanaman menyerap unsur hara. Kegiatan pengolahan tanah akan sangat mempengaruhi proses budidaya selanjutnya. Pengolahan tanah tetap sangat penting artinya, sehingga wajar bila inovasi dalam kegiatan ini terus dilakukan agar didapatkan hasil yang lebih baik. Pengolahan tanah dapat dilakukan secara mekanis terutama pada lahan yang memungkinkan, atau dengan alat konvensional untuk lahan miring yang memiliki luas teras yang sempit. Adapun tujuan dari pengolahan tanah yaitu :

1. Menciptakan kondisi fisik, khemis dan biologis tanah menjadi lebih baik
2. Menyiapkan tempat pertumbuhan benih yang serasi
3. Menghindarkan persaingan terhadap tumbuhan pengganggu
4. Memperbaiki sifat-sifat fisis dan kimia serta biologis tanah
5. Membunuh gulma dan tanaman yang tidak diinginkan
6. Menempatkan sisa-sisa tanaman  pada tempat yang sesuai agar dekomposisi berjalan dengan baik.
7. Menurunkan laju erosi
8. Meratakan tanah untuk memudahkan pekerjaan di lapangan
9. Mencampur dan meratakan pupuk dengan tanah
10.Mempersiapkan pengaturan irigasi dan drainase

Pengolahan tanah adalah proses di mana tanah digemburkan dan dilembekkan dengan menggunakan bajak ataupun garu yang ditarik dengan berbagai sumber tenaga, seperti tenaga manusia, tenaga hewan, dan mesin pertanian (traktor). Melalui proses ini, kerak tanah teraduk, sehingga udara dan cahaya mataharimenyentuh tanah lebih dalam dan meningkatkan kesuburannya. Sekalipun demikian, tanah yang sering digarap sering menyebabkan kesuburannya berkurang.

2.2. Langkah-Langkah Pengolahan Lahan

Pada umumnya pengolahan tanah terdiri atas tiga tahap, tahapan tersebut terdiri atas land clearing (membersihkan areal), pembajakan dan penggaruan. Klarifikasi mengenai tahapan pengolahan tanah akan dijelaskan sebagai berikut :

1. Land Clearing (Membersihkan Areal)

Pembersihan areal ialah pembersihan galengan sawah dari semua hal yang mengganggu. Pembersihan dilakukan terhadap pepohoyang, semak-semak, alang-alang atau tumbuhan lainnya yang berpotensi menganggu tumbuhnya tanaman yang akan dibudidayakan. Agar lebih bermanfaat rerumputan yang sudah dibersihkan tadi bisa dimanfaatkan lebih lanjut. Rerumputan dan residu jerami bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak , kompos, atau bahan bakar. Galengan sawah pada tanah pertanian memiliki fungsi yang penting. Galengan sawah berfungsi buat menahan air selama mengolah tanah agar tak mengalir keluar petakan. Fungsi lainnya berhubungan dengan pengaturan kebutuhan air selama ada tanaman padi.
Setelah dibersihkan dari rerumputan dan tanaman, tanah diperbaiki dan dibuat lebih tinggi. Selain memperbaiki tanah, pembersihan juga bertujuan memperlancar arus air dan menekan jumlah biji gulma yang terbawa masuk ke petak sawah. Pembersihan tanah pertanian bisa dilakukan dengan tangan , cangkul, atau linggis.

2. Pembajakan

Pembajakan merupakan proses pengolahan tanah pada masa tanam. Pembajakan tanah berfungsi mengembalikan kesuburan tanah setelah masa panen. Membajak dilakukan dengan memecah lapisan tanah menjadi bongkahan-bongkahan sehingga tanah bisa digemburkan.
Membajak juga melakukan pembalikan tanah dengan cangkul, garu, waluku, atau traktor. Pembalikan dilakukan dengan kedalaman 30-50 cm bergantung dari jenis tanah. Setelah dibalik tanah diratakan sampai halus agar bisa ditanami dengan baik. Dari proses ini diharapkan terjadi proses mineralisasi bahan-bahan organik sehingga tanah menjadi gembur kembali. Membajak tanah pertanian sebenarnya memiliki arti krusial bagi petani. Membajak membuat petani mengerti bagaimana menghasilkan produksi yang baik. Hasil produksi yang baik seharusnya didapatkan oleh petani setelah proses pembajakan. Pembajakan tanah ialah fase yang paling menghabiskan tenaga petani. Hampir empat puluh persen biaya produksi terserap pada fase ini.
Kondisi tanah pertanian Indonesia dengan tiga kali panen tiap tahunnya membuat tanah pertanian kehilangan unsur-unsur organiknya. Akhirnya tanah menjadi tandus dan bisa memengaruhi hasil produksi pertanian. Maka sebenarnya tanah sebagai media tanam harus disiapkan dengan baik, dari sinilah sebenarnya peran kita sangat dibutuhkan untuk terus meningkatkan produksi petani dengan berbagai ilmu yang telah didapat dalam belajar.

( Bajak Piringan )
( Lintasan Pengolahan tanah )

3. Penggaruan

Penggaruan dan pembajakan tanah sebenarnya dua kegiatan yang memiliki kaitan erat. Penggaruan atau penggemburan dilakukan dua tahap. Termin pertama dengan cara menghancurkan gumpalan tanah menjadi struktur remah. Dari bentuk remah struktur tanah akan menjadi halus dan merata. Jarak antara pembajakan dan penggaruan termin 1 berkisar 1 atau 2 minggu . Penggaruan termin dua bertujuan buat melumatkan tanah, sehingga semua tanah melumpur dan tanah menjadi halus. Tanah bisa dikatakan halus ketika menginjakkan kaki ke dalam lumpur terdapat kubangan bekas kaki dan lumpur akan saling mengisi.

BAB V
KESIMPULAN

Mengolah tanah adalah membalik dan menggemburkan struktur tanah agar menjadi gembur, sehingga memudahkan perakaran untuk masuk ke dalam tanah dan memudahkan akar tanaman menyerap unsur hara. Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan kondisi fisik, khemis dan biologis tanah menjadi lebih baik, menyiapkan tempat pertumbuhan benih yang serasi, menghindarkan persaingan terhadap tumbuhan pengganggu, memperbaiki sifat-sifat fisis dan kimia serta biologis tanah, membunuh gulma dan tanaman yang tidak diinginkan, menempatkan sisa-sisa tanaman (seresah) pada tempat yang sesuai agar dekomposisi berjalan dengan baik, menurunkan laju erosi, meratakan tanah untuk memudahkan pekerjaan di lapangan, mencampur dan meratakan pupuk dengan tanah, dan mempersiapkan pengaturan irigasi dan drainase.
























LihatTutupKomentar